Lembaga Tim Survei independen dari The Republic Institut mengeluarkan hasil survei, dimenangkan oleh Ikfina-Barra (IKBAR) yang menyabet nilai 59,2% dari Paslon incumbent

| | ,

Penulis : Agung Chornelis

Mojokerto Miris.id ~ Menunggu tinggal sekitar satu bulan lagi, Pemilihan Kepala daerah serentak di seluruh Indonesia sudah mencapai babak terakhir. Mendekati pemungutan suara yang akan dilaksanakan tanggal 9 Desember 2020, Lembaga Tim Survei independen dari The Republic Institut mengeluarkan hasil survei Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Mojokerto.

Menurut laporan, hasil survei tersebut dimenangkan oleh Ikfina-Barra (IKBAR) yang menyabet nilai 59,2% dari Paslon incumbent dan Paslon yang lain. Popularitas dan Elektabilitas Pasangan Ikfina Fahmawati-Muhammad Barra (IKBAR) berhasil mengungguli pasangan pung-titik yang hanya menjangkau 17,1% dan Yono-Nisa yang memperoleh 16,7%. Mengetahui adanya informasi hasil survei tersebut, Tim sukses Paslon IKBAR menggelar press release bertempat di Kafe Depan Kampus Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Selasa malam (3/11/2020)

Dari pantauan awak media kami, hal ini akan menjadi berita yang sangat menarik di Mojokerto untuk disimak dan diikuti. Karena hasil survei tersebut, sehari sebelumnya telah di rilis oleh media Harian Bangsa dengan begitu gamblang bahwa hasil survei yang mengejutkan tersebut telah digapai oleh pasangan IKBAR.

Menurut Santoso yang menjadi Ketua Tim Sukses IKBAR, ia menuturkan

“Kami ingin berita ini disebar luas kan ke seluruh masyarakat di kabupaten mojokerto. Kita beberapa kali menggunakan lembaga survei baik itu yang secara akademisi dan juga dari survei manual yang dilakukan oleh para “boto-boto”. Bahwa hasil untuk saat ini, kita sudah mencapai 59,2%,” Ujarnya.

Ia menambahkan, “Kalau kita terjun di lapangan, kita kok merasa kurang ya dari hasil survei segitu. Mestinya kalau dari hasil yang sudah kita lakukan, upaya-upaya yang sudah kita laksanakan, harapan dari tim ini ya minimal kita ini 65%. Akan tetapi kita cuma mendapat 59,2%. Meskipun begitu, hasil survei IKBAR masih jauh melampaui incumbent serta paslon yang lain.” Imbuhnya.

Setelah menyelesaikan pembicaraan nya, selanjutnya ia membuka ruang diskusi dan tanya jawab kepada para pewarta dari media cetak atau online, terkait kabar gembira yang disampaikan nya tersebut. Kesempatan wawancara itu disambut dengan pertanyaan Jayak Mardiansyah dari media majalahglobal.com

Ia menegaskan, “Hasil survei segitu, diambil dari sample berapa orang di kabupaten mojokerto. Mengingat warga kabupaten mojokerto sudah sangat banyak, lebih dari satu juta orang. Jadi biar media tahu, diambil sample berapa bisa mengatakan survey nya segitu. Dan yang terpenting tolak ukur nya apa, orang mau memilih Ikbar bisa mencapai hasil survei nya sampai 59,2@%,” Terangnya.

Selanjutnya ia menambah pertanyaan, “Terkait perkembangan kasus hukum boga, seperti apa bapak. Tolong dijelaskan, karena ini masih menjadi topik hangat di social media ataupun dunia nyata.” Tanyanya.

Mendapatkan pertanyaan semacam ini, Santoso menuturkan “Lembaga survei independen dari The Republic Institute adalah lembaga survei yang berbasis akademisi. Lembaga ini sudah menggunakan metode-metode yang ilmiah dan sudah disahkan, sudah diakui secara empiris.” Kilah nya.

“Sementara terkait dengan yang lain-lain seperti kasus nya boga, karena kita ini masih dalam press release terkait survei kita jawab survei saja. Masalah boga sudah ada yang menangani tim hukum kami. Sudah ditangani secara serius oleh tim hukum kami. Nanti biar masalah-masalah hukum akan kita diskusikan lagi dengan tim hukum kami.” Sergahnya.

Namun demikian terlepas hasil survei jumlah perolehan nilai, hal itu bisa menjadi rujukan gambaran namun tidak sepenuhnya mutlak mencakup semua nya. Karena tergantung keikutsertaan pemilih, partisipasi masyarakat, pengaruh popularitas, Elektabilitas semua nya terangkum jadi satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh.

Seperti mengutip koran harian bangsa, Senin (2/11/2020) Sufyanto menjelaskan, elektabilitas pasangan Ikfina-Gus barra (Ikbar) tinggi akibat ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah Kabupaten Mojokerto sangat tinggi terutama pada masa pandemi covid 19.

Baik pungkasiadi maupun Yoko Priyono memang pejabat Pemkab Mojokerto. Pungkasiadi yang akrab disapa pung adalah wakil bupati Mojokerto yang kemudian menjabat sebagai bupati Mojokerto. Sedang Yoko Priyono adalah Kepala Dinas koperasi dan usaha mikro Kabupaten Mojokerto, sebelum akhirnya mencalonkan diri sebagai bupati.

Ketidakpuasan publik, kata sufyanto, sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku pemilih, terutama pada sektor lapangan kerja. “Banyak pengangguran” kata sufyanto menjelaskan salah satu penyebabnya. Padahal pada masa pandemi covid-19 masyarakat sangat susah secara ekonomi.

Publik, kata doktor alumnus Unair itu, lalu mencari pemimpin alternatif yang dianggap bisa memberi jalan keluar tumpuannya kepada Ikbar, lebih-lebih para milenial. “Mayoritas milenial ke Gus Barra,” terang sufyanto.

Bukankah pungkasiadi incumbent yang biasanya memiliki tingkat elektabilitas tinggi? Sufyanto menjelaskan bahwa pungkasiadi menjabat Bupati di tengah jalan, sehingga pengaruh nya belum signifikan. Begitu juga program kerjanya belum bisa dirasakan masyarakat.

Previous

Terbongkar ! Teryata BST Pos Tidak Ada Pengalihan, Pemdes Powan Salahi Aturan

Pemkab Bondowoso Tambahkan Anggaran APBD Untuk Antisipasi Bencana Alam

Next

Tinggalkan komentar