Sudah Diperiksa 12 Jam, Oknum ASN Sumber Tersangka Hamili Keponakan Tak Ditahan, Ada Apa ?

| | ,

Sudah Diperiksa 12 Jam, Oknum ASN Sumber Tersangka Hamili Keponakan Tak Ditahan, Ada Apa ?

PAJARAKAN ( MIRIS.ID ) – Inisial Sdrn, 49, ASN Kecamatan Sumber yang jadi tersangka menghamili keponakannya, akhirnya memenuhi panggilan Unit PPA Polres Probolinggo. Dia pun diperiksa selama 12 jam pada Kamis (14/1). Namun, Sdrn tidak juga ditahan.

Tersangka Sdrn menjalani pemeriksaan di ruang Unit PPA Polres Probolinggo mulai sekitar pukul 09.00, Kamis (14/1/2021). Pemeriksaan yang dilakukan penyidik Unit PPA baru rampung sekitar pukul 21.00. Begitu pemeriksaan selesai, Kamis malam itu, tersangka diperbolehkan pulang alias tidak ditahan.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Riski Santoso saat dikonfirmasi memastikan proses penyidikan terhadap Sdrn sebagai tersangka terus berlanjut. Hanya saja, pihaknya memang tidak menahan tersangka Sdrn.

Selama pemeriksaan itu, menurut Kasat Reskrim, Sdrn menolak tuduhan bahwa dirinya menghamili SA, 14, keponakan yang juga anak angkatnya. Sdrn kukuh menyebut dirinya tidak menghamili SA.

”Ia (Sdrn) memang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tapi dia tidak mengakui perbuatannya. Kami tidak menahan tersangka karena ada pertimbangan tersendiri yang menjadi ranah penyidikan kami. Tapi yang pasti, proses penyidikan tetap berlanjut,” tegas perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu.

Selanjutnya, menurut Kasat Reskrim, pihaknya akan melengkapi proses penyidikan dan pemberkasan tersangka. Selanjutnya, berkas tersebut akan dilimpahkan ke JPU Kejari Kabupaten Probolinggo.

” Proses penyidikan tetap lanjut, kami akan melengkapi pemberkasan. Selanjutnya dilimpahkan ke JPU untuk tahap pertama,” terangnya.

Sementara itu, Edi sebagai kuasa hukum korban SA, 14, mengaku kecewa dengan sikap penyidik Polres Probolinggo. Sebab, penyidik tidak menahan Sdrn, 49. Padahal, ASN Kecamatan Sumber itu sudah menjadi tersangka.

“ Kami sangat menyesalkan keputusan penyidik Polres Probolinggo yang tidak menahan tersangka (Sdrn). Padahal, tersangka diduga menghamili anak di bawah umur,” terangnya.

Edi menjelaskan, menghamili anak di bawah umur adalah tindak pidana yang diatur dalam UU Nomor 35/2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 5 tahun lebih.

“Sesuai KUHAP, kalau ancaman 5 tahun penjara atau lebih, maka wajib ditahan. Sementara UU Perlindungan Anak itu ancaman pidananya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun,” katanya.

Karena itu, menurut Edi, pihaknya akan mendatangi Mapolres Probolinggo untuk meminta penjelasan tentang alasan tidak ditahannya tersangka Sdrn. Mengingat, kasus dugaan menghamili anak di bawah umur masuk asas lex specialis.

”Ini perkara menimpa anak di bawah umur dan dilindungi oleh Undang-undang Perlindungan Anak. Perkara ini masuk asas lex specialis. Kami akan minta ketegasan dan keseriusan dalam menangani kasus tersebut dan menahan tersangka Sdrn,” tegasnya.

Wartawan Miris.id juga mengonfirmasi Hasmoko selaku penasihat hukum (PH) tersangka Sdrn. Namun, telepon pada Hasmoko belum direspons. Sementara Mustadji, PH lain tersangka Sdrn enggan memberikan komentar saat dikonfirmasi.

Sdrn sendiri dilaporkan ke Polres Probolinggo atas dugaan memperkosa keponakan yang juga anak angkatnya. Yakni, SA, 14 warga Desa Pandansari, Kecamatan Sumber.

Dia dilaporkan keluarga SA ke Polres Probolinggo, Selasa (10/11) tahun lalu. Dua hari kemudian yaitu Kamis (12/11), S kabur. Bahkan, saat itu Polres Probolinggo menetapkannya sebagai DPO.

Namun, Sdrn akhirnya pulang dan menyerahkan diri. Unit PPA Polres Probolinggo lantas menetapkan S sebagai tersangka. Dia pun dipanggil sebagai tersangka pada Rabu (6/1). Hanya saja, saat itu S melalui PH melayangkan surat penundaan pemeriksaan. ( Yop )

Previous

Gaji Sejuta Per Bulan, GTT-PTT Kota Pasuruan Wadul Dewan

Penerima BTS Dan BPNT Dinsos Probolinggo Menurun Di Tahun 2021

Next

Tinggalkan komentar