Jadilah Kuli Tinta Yang Profesional, Biar Tak Di Cap Wartawan ” Bodreks “

| |

Penulis : Wardi

SITUBONDO ( Miris.id ) – Setelah era reformasi tahun 1998, kebebasan pers di Indonesia diterapkan. Perusahan-perusahan pers tumbuh subur di seluruh Nusantara.

Namun tidak semua perusahan pers punya manajemen yang bagus dalam menjalankan usahanya. Masih banyak ditemukan perusahaan pers yang tidak hati-hati dalam melakukan perekrutan wartawan di daerah, yang pada akhirnya ditemukan pelanggaran-pelanggaran kode etik jurnalis di lapangan.

Seperti yang diceritakan oleh salah seorang wartawan Mitrajatim.com Ahmad Arfa , yang tergabung di Komunitas (APSi) Aliansi Pewarta Situbondo. Menurutnya, citra wartawan akan terus tergerus jika masih ditemukan wartawan yang melakukan praktik-praktik intimidasi kepada narasumber.

Tapi itu tidak bisa disalahkan. Berdasarkan pengalamannya, ia juga pernah bergabung pada salah satu perusahaan pers yang menuntut setoran, dan menuntut pemberitaan.

Menurutnya, perusahaan yang ia ikuti, tidak perduli dengan kondisi lapangan yang dialaminya. Perusahaan hanya menarget setoran rutin tepat waktu.

“ Sudah capek target pemberitaan, tapi masih dituntut setoran rutin bulanan. Apakah ini namanya bukan perbudakan?,” Kata Ahmad Arfa. Sabtu (7/11/2020).

“Kecuali kalau sistemnya kita dapat gaji, atau bagi hasil jika ada kerjasama. Jadi beban kerjanya tidak terlalu berat.” lanjutnya.

Ahmad juga memahami jika masih ada praktik-praktik wartawan yang sekedar silaturahmi ke instansi-instansi pemerintahan. Menurutnya itu karena perusahaan pers kurang selektif dalam merekrut wartawan, akhirnya profesinalismenya yang dipertaruhkan.

Ahmad Arfa menyarankan kepada masyarakat yang ingin menggeluti dunia jurnalistik, agar bergabung pada perusahaan pers yang profesional. Bukan perusahaan pers asal-asalan, sehingga dalam menjalankan profesi jurnalis tetap aman, nyaman, dan tidak melanggar kode etik jurnalis.

“ Bila kita gabung dengan perusahaan profesional, maka dalam menjalankan profesi jurnalis juga ikut profesional. Sehingga citra wartawan bodrek akan hilang,” tutup Ahmad panggilan sehari – harinya.

Previous

Debat Kedua Pasangan Paslon Cabup Dan Cawabup Situbondo Dengan Tema Pembangunan Ekonomi Pedesaan

Alumni Tahun 2001, STM Daerah Situbondo Gelar Reuni

Next

Tinggalkan komentar